Fardiansyah S Harahap, Wilda Hanifah, Fazril Amri Daulay, Syahriana, Resi Anggraini Hasibuan, Iprah Pratiwi Batubara, Saqinah Sari, Ika mutiara Siregar, Tia Destiana, Mahadi.

cursor

Blue Fire Pointer

Search This Blog

Monday, 26 December 2016

Haji Badjora M. Siregar, dari Tokoh Dokter, Politik, Hingga Pendidikan




Jihad tidak terbatas pada angkat senjata atau perang, tapi juga salah satu cabang jihad, yakni jihad mal (harta). Sumbangan harta demi pendidikan digolongkan juga jihad fisabilillah. Oleh karena itu, sebagian ulama membagi mustahak zakat pada mereka yang menuntut ilmu–pelajar berhak menerimanya.
Kontribusi semacam itu tampaknya sering diperbuat Pak dr Haji Badjora M Siregar, ketua Yayasan Perguruan Islam (YPI), SD-SMP-SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan. Dalam satu kesempatan, Pak Badjora mengatakan, mendirikan sekolah yang bermutu dan murah seperti Nurul Ilmi ini langkah langka, sedangkan mendirikan sekolah yang mahal dan berkualitas itu mudah.
Apa yang dikatakannya benar, untuk Sumatera Utara (Medan) misalnya kita mengetahui ada sekolah Swasta Sutomo, Harapan, Al Azhar, dan Syafiatul Amaliyah. Dan seperti kita ketahui biayanya cukup mahal bagi kalangan ekonomi lemah. Jadi, beruntunglah kita di Padangsidimpuan, memiliki Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan yang berkualitas dan terjangkau.
Seandainya, kata dr Badjora banyak tokoh eks Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang kini meliputi wilayah Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Padang Lawas Utara (Paluta), dan Padang Lawas (Palas). Mau mendirikan pendidikan seperti Nurul Ilmi Padangsidimpuan, tentu putra/putri Tabagsel akan menjadi aktor nasional, bahkan internasional sekaliber Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Tapi, masalahnya, jamak tokoh Tabagsel yang sukses dan kaya belum melakukannya? Terlepas dari kelebihan atau keterbatasan yang disumbangkan Badjora dalam pendidikan, rasanya kita patut mengapresiasi amalnya. Paling tidak kita perlu berterima kasih dengan apa yang dilakukan dr Badjora dalam pendidikan, terutama di Kota Padangsidimpuan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih itulah, tulisan ini diungkap ketokohan Pak dr H Badjora M Siregar, khususnya dalam bidang pendidikan.
Tokoh di Sekitar Kita
Banyak orang beranggapan bahwa salah satu penyebab moralitas masyarakat merosot lantaran kita kekurangan teladan. Saya kira masalahnya, kita bukan kehabisan stok tokoh anutan, melainkan cara pandang kemanusiaan kitalah yang keliru, sampai kemudian tak mampu menangkap ibrah dari orang hebat yang ada di sekitar kita.
Masih ingat komentar Ruhut Sitompul ketika konflik KPK-Polri baru-baru ini. Politikus Demokrat itu mengatakan di media, pimpinan KPK haruslah beda tipis (beti) dengan malaikat. Padahal, Ruhut lupa kita manusia yang jelas-jelas berbeda dengan malaikat. Betul malaikat sangat bersih dari segala maksiat, tetapi malaikat tak ditunjuk Tuhan sebagai khalifah. Justru manusia dengan segala kelebihan dan keterbatasannyayang diangkat khalifah di bumi–dan karena itu manusia bertanggung jawab terhadap konsekuensi baik maupun buruk perbuatannya. Untuk itulah, kita jangan hanya menyorot tokoh yang di Jakarta, misalnya, melainkan kita penting menilik bahkan meneliti tokoh di sekitar kita. Bisa jadi ia adalah keluarga kita, tetangga kita, lingkungan kita, atau mungkin pimpinan di tempat kita bekerja.
Di sini, saya ingin mencontohkan Pak dr H Badjora M Siregar. Siapa yang tidak mengenal beliau di wilayah Tabagsel –paling tidak mendengar namanya disebut, dari desa yang paling kolot hingga kabupaten dan kota di Tabagsel.
Mengapa dr Badjora begitu masyhur? Mungkin, karena profesinya sebagai dokter spesialis bedah (DSB) yang pertama di wilayah Tabagsel. Konon, pada saat ia pulang kampung (Pulkam) dari Jakarta, selulus dari Universitas Indonesia (UI). Di Sumatera Utara (Sumut) dokter spesialis masih hitungan jari, di Medan saja baru satu orang? Kalau tidak salah juga, Dokter Badjora M Siregar seangkatan di UI Jakarta dengan almarhumAbdul Mun'im Idries pakar forensik yang menjadi saksi ahli pada persidangan kasus Antasari Azhar, mantan pimpinan KPK yang tersangkut pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

" Mungkin, kita berandai, sekiranya Badjora tidak Pulkam ke Tabagsel, kepopuleran dan kepakarannya bisa sekaliber Abdul Mun’im yang menasional itu? Rupanya, Badjora sebagai muhajirin di Jakarta, masih mau Pulkam ke Padangsidimpuan, semacam fathul Padangsidimpuan yang ditinggalkan sementara dulu. "

Akan tetapi, saya tidak bermaksud mengisahkan Badjora sebagai dokter. Di sini, saya justru ingin mengungkapkan sebagian jihad mal (kontribusi harta) yang dilakukannya demi pendidikan–terutama mencerdaskan masyarakat Tabagsel khususnya, dan manusia Indonesia umumnya.
Jihad Mal Pendidikan Menurut Mohammed AbedAl-Jabri, ulama dari Maroko bahwa dinamika gerakan Islam itu mempunyai tiga modal, yakni modal akidah (tauhid), modal ghanimah (ekonomi), dan modal kabilah (suku). Mungkin, sebagian besar di antara kita hanya memiliki salah satunya, sebagian orang memiliki modal akidah, tapi tidak mempunyai ghanimah. Atau sebaliknya, mempunyai modal aqidah dan ghanimah, tetapi tidak mempunyai modal kabilah. Kalau boleh dibilang Badjora memiliki ketiga modal itu.
Sebagaimana dikatakan Pak H Nurfin Sihotang, Ph.D kepada saya. Lihatlah Pak dr Badjora, shalat dan doanya lebih panjang daripada kita. Saya pun mengamini itu secara pribadi. Itulah contoh modal akidah kalau ibadah seseorang kepada Allah SWT selalu ikhlas. Tidak hanya fardhu ain–
sebagaimana dikatakan Mahathir Mohammad pada acara seminar HUT Waspada Medan ke-68 yang bertema “Menyonsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” di Grand Ball Room Hotel JW Marriot Medan, Sabtu (10/1/2015). Mantan PM Malaysia itu menyampaikan umat Islam lemah karena hanya fokus pada fardhu ain semata dan belum menganggap fardhu kifayah seperti kekuatan ekonomi sebagai ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Tuhan. Jika di Malaysia, Mahathir sudah membuat gerakan ke arah kekuatan ekonomi tentu lewat pendidikan. Di Indonesia, sudut Barat Sumatera, yakni Padangsidimpuan, dr Badjora melakukan hal yang persis. Berupa pendirian Yayasan Perguruan Islam, pendidikan SD, SMP, dan SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan.
Pola pendidikan Nurul Ilmi Padangsidimpuan adalah perpaduan ilmu umum dan agama. Muatan ilmu IPA dan PAI; sekolah plus pesantren. Penyatuan itu dalam istilah dosen saya Prof KH Yudian Wahyudi Ph.D, tauhidul ulum–menyatukan epistemologi keilmuan. Pasalnya, setelah kita bangsa Indonesia, babak belur dihajar penjajah (kolonial) yang buntutnya melahirkan dikotomi (umum vs agama) dalam pendidikan. Kini, kita Indonesia mulai insyaf dengan bangkitnya Sekolah Islam Terpadu, SDIT, SMPIT, SMAIT hingga IAIN-T atau UIN-T, T-nya terpadu.
Sejarah membuktikan golongan minoritas dapat mengalahi mayoritas–sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 249. Persis kisah peperangan Thalut/Daud dan Jalut atau David versus Goliath, yang dimenangi Daud. Kekuatan ilmu pengetahuan dikuasai minoritas. Daud bersenjata ketapel yang ringan, sedangkan Jalut (Goliath) beralat tombak/pedang yang berat. Daud si pelontar (artileri) membidik bagian kepala Jalut si infanteri sampai tewas. Sebagaimana juga dalam Surah Al-Fil, laskar gajah Abarahah luluh lantak diserang pasukan udara Ababil.
Begitulah, penjajah menaklukkan negara mayoritas Muslim. Strategi perang kolonial bersenjata ilmu Fisika, IPA, matematika, dan ekonomi. Lalu, kita lawan dengan meta-Fisika dan alat tradisional. Jet tempur kolonial kita tangkis dengan bambu runcing. Makanya, kita patah berkeping-keping, seperti daun yang dimakan ulat-ulat (kaasfin ma’kul). Paling tidak korbannya, lebih banyak pada rakyat Indonesia dibanding penjajah Belanda. Untuk pertaubatan itulah, masa depan Nurul Ilmi Padangsidimpuan layak dipertimbangkan, karena alumni Nurul Ilmi mulai menembus universitas nasional, seperti UI Jakarta dan UGM Yogyakarta. Oleh karena itulah, dr Badjora rela mensubsidi alumni Nurul ‘Ilmi hingga ke universitas.
Misalnya, saya pernah menyaksikan di lantai dasar aula Nurul Ilmi Padangsidimpuan–seorang orang tua yang terisak tangis di hadapan Badjora. Saya yang lewat menguping masalahnya, ternyata si orang tua tidak mampu menanggung biaya anaknya alumni Nurul Ilmi yang lulus di PTN pulau Jawa. Pak Badjora bersedia membantunya. Begitu juga saya dengar kisah lain, alumni Nurul Ilmi yang lulus kedokteran di UI Jakarta, tapi orang tuanya tergolong ekonomi lemah. Pak Badjora rela membantu biaya pendidikan si anak calon dokter itu hingga kini. Saya kira, itu hanya dua contoh kecil dari sekian banyak orang yang dibantu Badjora M Siregar.
Tanpa bermaksud memuji atau memujanya secara berlebihan–dengan banyaknya sumbangan harta, zakat, shadaqah, dan infak yang diberikannya demi kemaslahatan umat. Berbagi kepada masyarakat yang kurang mampu dan guru madrasah. Termasuk secara langsung berbagi uang kepada siswa Nurul Ilmi yang kaya maupun yang miskin sudah menjadi kebiasaan rutin Pak Dokter Badjora. Saat itu, sebagaimana kegembiraan si penerima, begitu jugalah tampaknya kebahagiaan terpancar di wajah Pak Badjora. Padahal, yang namanya dokter, umumnya bermuka serius, kecuali dokter anak.
Mungkin karena mereka sering berhadapan dengan orang yang sekarat atau sakaratul maut (menjelang mati). Dengan memberi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, Allah SWT menjanjikan nikmat tambahan atas rasa syukur itu. Barangkali itu jugalah resep Badjora sehingga tampak sehat–padahal ia lahir 25 November 1939. Kisah sekelumit dr Haji Badjora M Siregar ini tidaklah bermaksud sanjungan berlebihan. Saya tahu orang yang besar pasti tidak suka dipuji. Sebagaimana juga saya dengar Badjora mengatakan kepada seseorang yang menangis di hadapannya. “Saya tidak suka bila orang lain menangis kepada saya karena mengharap bantuan. Mengadulah kepada Tuhan, mintalah kepada-Nya, dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh.”

Sumber : Kompasiana

No comments:

Post a Comment