Jihad tidak terbatas pada angkat senjata atau perang, tapi juga
salah satu cabang jihad, yakni jihad mal (harta). Sumbangan harta demi
pendidikan digolongkan juga jihad fisabilillah. Oleh karena itu,
sebagian ulama membagi mustahak zakat pada mereka yang menuntut
ilmu–pelajar berhak menerimanya.
Kontribusi semacam itu tampaknya
sering diperbuat Pak dr Haji Badjora M Siregar, ketua Yayasan Perguruan
Islam (YPI), SD-SMP-SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan. Dalam satu
kesempatan, Pak Badjora mengatakan, mendirikan sekolah yang bermutu dan
murah seperti Nurul Ilmi ini langkah langka, sedangkan mendirikan
sekolah yang mahal dan berkualitas itu mudah.
Apa yang
dikatakannya benar, untuk Sumatera Utara (Medan) misalnya kita
mengetahui ada sekolah Swasta Sutomo, Harapan, Al Azhar, dan Syafiatul
Amaliyah. Dan seperti kita ketahui biayanya cukup mahal bagi kalangan
ekonomi lemah. Jadi, beruntunglah kita di Padangsidimpuan, memiliki
Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan yang berkualitas dan terjangkau.
Seandainya, kata dr Badjora banyak tokoh eks Tapanuli Bagian Selatan
(Tabagsel) yang kini meliputi wilayah Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan
(Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Padang Lawas Utara (Paluta), dan
Padang Lawas (Palas). Mau mendirikan pendidikan seperti Nurul Ilmi
Padangsidimpuan, tentu putra/putri Tabagsel akan menjadi aktor nasional,
bahkan internasional sekaliber Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris
Nasution.
Tapi, masalahnya, jamak tokoh Tabagsel yang sukses dan
kaya belum melakukannya? Terlepas dari kelebihan atau keterbatasan yang
disumbangkan Badjora dalam pendidikan, rasanya kita patut mengapresiasi
amalnya. Paling tidak kita perlu berterima kasih dengan apa yang
dilakukan dr Badjora dalam pendidikan, terutama di Kota Padangsidimpuan.
Sebagai ungkapan rasa terima kasih itulah, tulisan ini diungkap
ketokohan Pak dr H Badjora M Siregar, khususnya dalam bidang pendidikan.
Tokoh di Sekitar Kita
Banyak orang beranggapan bahwa
salah satu penyebab moralitas masyarakat merosot lantaran kita
kekurangan teladan. Saya kira masalahnya, kita bukan kehabisan stok
tokoh anutan, melainkan cara pandang kemanusiaan kitalah yang keliru,
sampai kemudian tak mampu menangkap ibrah dari orang hebat yang ada di
sekitar kita.
Masih ingat komentar Ruhut Sitompul ketika konflik
KPK-Polri baru-baru ini. Politikus Demokrat itu mengatakan di media,
pimpinan KPK haruslah beda tipis (beti) dengan malaikat. Padahal, Ruhut
lupa kita manusia yang jelas-jelas berbeda dengan malaikat. Betul
malaikat sangat bersih dari segala maksiat, tetapi malaikat tak ditunjuk
Tuhan sebagai khalifah. Justru manusia dengan segala kelebihan dan
keterbatasannyayang diangkat khalifah di bumi–dan karena itu manusia
bertanggung jawab terhadap konsekuensi baik maupun buruk perbuatannya.
Untuk itulah, kita jangan hanya menyorot tokoh yang di Jakarta,
misalnya, melainkan kita penting menilik bahkan meneliti tokoh di
sekitar kita. Bisa jadi ia adalah keluarga kita, tetangga kita,
lingkungan kita, atau mungkin pimpinan di tempat kita bekerja.
Di sini, saya ingin mencontohkan Pak dr H Badjora M Siregar. Siapa yang
tidak mengenal beliau di wilayah Tabagsel –paling tidak mendengar
namanya disebut, dari desa yang paling kolot hingga kabupaten dan kota
di Tabagsel.
Mengapa dr Badjora begitu masyhur? Mungkin, karena
profesinya sebagai dokter spesialis bedah (DSB) yang pertama di wilayah
Tabagsel. Konon, pada saat ia pulang kampung (Pulkam) dari Jakarta,
selulus dari Universitas Indonesia (UI). Di Sumatera Utara (Sumut)
dokter spesialis masih hitungan jari, di Medan saja baru satu orang?
Kalau tidak salah juga, Dokter Badjora M Siregar seangkatan di UI
Jakarta dengan almarhumAbdul Mun'im Idries pakar forensik yang menjadi
saksi ahli pada persidangan kasus Antasari Azhar, mantan pimpinan KPK
yang tersangkut pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.
" Mungkin, kita
berandai, sekiranya Badjora tidak Pulkam ke Tabagsel, kepopuleran dan
kepakarannya bisa sekaliber Abdul Mun’im yang menasional itu? Rupanya,
Badjora sebagai muhajirin di Jakarta, masih mau Pulkam ke
Padangsidimpuan, semacam fathul Padangsidimpuan yang ditinggalkan
sementara dulu. "
Akan tetapi, saya tidak bermaksud mengisahkan
Badjora sebagai dokter. Di sini, saya justru ingin mengungkapkan
sebagian jihad mal (kontribusi harta) yang dilakukannya demi
pendidikan–terutama mencerdaskan masyarakat Tabagsel khususnya, dan
manusia Indonesia umumnya.
Jihad Mal Pendidikan Menurut Mohammed
AbedAl-Jabri, ulama dari Maroko bahwa dinamika gerakan Islam itu
mempunyai tiga modal, yakni modal akidah (tauhid), modal ghanimah
(ekonomi), dan modal kabilah (suku). Mungkin, sebagian besar di antara
kita hanya memiliki salah satunya, sebagian orang memiliki modal akidah,
tapi tidak mempunyai ghanimah. Atau sebaliknya, mempunyai modal aqidah
dan ghanimah, tetapi tidak mempunyai modal kabilah. Kalau boleh dibilang
Badjora memiliki ketiga modal itu.
Sebagaimana dikatakan Pak H
Nurfin Sihotang, Ph.D kepada saya. Lihatlah Pak dr Badjora, shalat dan
doanya lebih panjang daripada kita. Saya pun mengamini itu secara
pribadi. Itulah contoh modal akidah kalau ibadah seseorang kepada Allah
SWT selalu ikhlas. Tidak hanya fardhu ain–
sebagaimana dikatakan
Mahathir Mohammad pada acara seminar HUT Waspada Medan ke-68 yang
bertema “Menyonsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” di Grand Ball Room
Hotel JW Marriot Medan, Sabtu (10/1/2015). Mantan PM Malaysia itu
menyampaikan umat Islam lemah karena hanya fokus pada fardhu ain semata
dan belum menganggap fardhu kifayah seperti kekuatan ekonomi sebagai
ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Tuhan. Jika di Malaysia, Mahathir
sudah membuat gerakan ke arah kekuatan ekonomi tentu lewat pendidikan.
Di Indonesia, sudut Barat Sumatera, yakni Padangsidimpuan, dr Badjora
melakukan hal yang persis. Berupa pendirian Yayasan Perguruan Islam,
pendidikan SD, SMP, dan SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan.
Pola
pendidikan Nurul Ilmi Padangsidimpuan adalah perpaduan ilmu umum dan
agama. Muatan ilmu IPA dan PAI; sekolah plus pesantren. Penyatuan itu
dalam istilah dosen saya Prof KH Yudian Wahyudi Ph.D, tauhidul
ulum–menyatukan epistemologi keilmuan. Pasalnya, setelah kita bangsa
Indonesia, babak belur dihajar penjajah (kolonial) yang buntutnya
melahirkan dikotomi (umum vs agama) dalam pendidikan. Kini, kita
Indonesia mulai insyaf dengan bangkitnya Sekolah Islam Terpadu, SDIT,
SMPIT, SMAIT hingga IAIN-T atau UIN-T, T-nya terpadu.
Sejarah
membuktikan golongan minoritas dapat mengalahi mayoritas–sebagaimana
terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 249. Persis kisah peperangan
Thalut/Daud dan Jalut atau David versus Goliath, yang dimenangi Daud.
Kekuatan ilmu pengetahuan dikuasai minoritas. Daud bersenjata ketapel
yang ringan, sedangkan Jalut (Goliath) beralat tombak/pedang yang berat.
Daud si pelontar (artileri) membidik bagian kepala Jalut si infanteri
sampai tewas. Sebagaimana juga dalam Surah Al-Fil, laskar gajah Abarahah
luluh lantak diserang pasukan udara Ababil.
Begitulah, penjajah
menaklukkan negara mayoritas Muslim. Strategi perang kolonial
bersenjata ilmu Fisika, IPA, matematika, dan ekonomi. Lalu, kita lawan
dengan meta-Fisika dan alat tradisional. Jet tempur kolonial kita
tangkis dengan bambu runcing. Makanya, kita patah berkeping-keping,
seperti daun yang dimakan ulat-ulat (kaasfin ma’kul). Paling tidak
korbannya, lebih banyak pada rakyat Indonesia dibanding penjajah
Belanda. Untuk pertaubatan itulah, masa depan Nurul Ilmi Padangsidimpuan
layak dipertimbangkan, karena alumni Nurul Ilmi mulai menembus
universitas nasional, seperti UI Jakarta dan UGM Yogyakarta. Oleh karena
itulah, dr Badjora rela mensubsidi alumni Nurul ‘Ilmi hingga ke
universitas.
Misalnya, saya pernah menyaksikan di lantai dasar
aula Nurul Ilmi Padangsidimpuan–seorang orang tua yang terisak tangis di
hadapan Badjora. Saya yang lewat menguping masalahnya, ternyata si
orang tua tidak mampu menanggung biaya anaknya alumni Nurul Ilmi yang
lulus di PTN pulau Jawa. Pak Badjora bersedia membantunya. Begitu juga
saya dengar kisah lain, alumni Nurul Ilmi yang lulus kedokteran di UI
Jakarta, tapi orang tuanya tergolong ekonomi lemah. Pak Badjora rela
membantu biaya pendidikan si anak calon dokter itu hingga kini. Saya
kira, itu hanya dua contoh kecil dari sekian banyak orang yang dibantu
Badjora M Siregar.
Tanpa bermaksud memuji atau memujanya secara
berlebihan–dengan banyaknya sumbangan harta, zakat, shadaqah, dan infak
yang diberikannya demi kemaslahatan umat. Berbagi kepada masyarakat yang
kurang mampu dan guru madrasah. Termasuk secara langsung berbagi uang
kepada siswa Nurul Ilmi yang kaya maupun yang miskin sudah menjadi
kebiasaan rutin Pak Dokter Badjora. Saat itu, sebagaimana kegembiraan si
penerima, begitu jugalah tampaknya kebahagiaan terpancar di wajah Pak
Badjora. Padahal, yang namanya dokter, umumnya bermuka serius, kecuali
dokter anak.
Mungkin karena mereka sering berhadapan dengan
orang yang sekarat atau sakaratul maut (menjelang mati). Dengan memberi
sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, Allah SWT menjanjikan nikmat
tambahan atas rasa syukur itu. Barangkali itu jugalah resep Badjora
sehingga tampak sehat–padahal ia lahir 25 November 1939. Kisah sekelumit
dr Haji Badjora M Siregar ini tidaklah bermaksud sanjungan berlebihan.
Saya tahu orang yang besar pasti tidak suka dipuji. Sebagaimana juga
saya dengar Badjora mengatakan kepada seseorang yang menangis di
hadapannya. “Saya tidak suka bila orang lain menangis kepada saya karena
mengharap bantuan. Mengadulah kepada Tuhan, mintalah kepada-Nya, dan
bekerjalah dengan sungguh-sungguh.”
Sumber : Kompasiana