Fardiansyah S Harahap, Wilda Hanifah, Fazril Amri Daulay, Syahriana, Resi Anggraini Hasibuan, Iprah Pratiwi Batubara, Saqinah Sari, Ika mutiara Siregar, Tia Destiana, Mahadi.

cursor

Blue Fire Pointer

Search This Blog

Saturday, 4 March 2017

Pengurus Info.com


Kisah ini dimulai dari tahun 2013, ketika kelompok ini dibentuk dan dipersatukan oleh OSIS Semangat Revolusi yang kala itu sedang bertanggung jawab di Nurul Ilmi. Ukhuwah terus berlanjut sampai sekarang dan sampai kapanpun. Menyatukan misi kembali untuk mengepakkan sayap dan menjangkau setiap orang. Beginilah kami bergerak, berusaha menyuplai Informasi yang Insya Allah dapat dipertanggung jawabkan ke shohih-annya. Terlepas dari nama INFOKOM, inilah tokoh-tokoh yang selalu senantiasa berusaha membesarkan Infokom. Bergerak dibalik layar.



 Fardiansyah S Harahap. Sebagai ketua umum atau pimpinan.

   
Wilda Hanifah, Sebagai Wakil Ketua.



Kiri-kanan : Ika Mutiara Sari & Iprah Pratiwi Batubara


Saqinah Sari

Fazril Amri

Resi Anggraini

Tia Destiana




Mahadi





Sulaiman Al Rajhi, Miliarder Arab Saudi yang Memilih Hidup Miskin Agar Lebih Tentram





        Jika kebanyakan orang bekerja keras mencari uang agar menjadi kaya raya, salah satu miliarder terkaya di dunia ini justru susah payah mengumpulkan harta untuk hidup miskin. Adalah Sulaiman Al Rajhi, salah satu orang terkaya di dunia yang memilih menyumbangkan seluruh hartanya termasuk uang tunai, saham dan propertinya.

Meski demikian, dia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia dan sukses mencetak uang hingga US$ 6 miliar atau Rp 73,16 triliun (kurs: Rp 12.193 per dolar AS) dari industri perbankan yang dipimpinnya. Di usianya yang ke-93 tahun, dia merasa harta dan kekayaan bukanlah hal yang penting.

Padahal, dia pernah jatuh miskin sebanyak dua kali dalam hidupnya. Uniknya, sekarang saat dia telah memiliki semua yang dikejarnya, Al Rajhi melepaskan semua hartanya begitu saja.
Diakuinya berbeda dengan kondisi melarat sebelumnya, kemiskinan yang menimpanya kali ini disertai rasa bahagia, tenang dan damai. Bagi pria yang hanya lulus Sekolah Dasar (SD) ini, seluruh kekayaan yang dimiliki manusia hanyalah titipan Tuhan semata.

Mengapa pria tua kaya raya ini rela melepas semua hartanya dan senang hidup miskin?

       Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (27/5/2016), Sulaiman Al-Rajhi merupakan pendiri bank Islam terbesar di dunia bernama Bank Al-Rajhi dan perusahaan terbesar di Arab Saudi. majalah Forbes pernah menobatkan Sulaiman Al-Rajhi sebagai orang ke-120 terkaya di dunia. Kekayaannya sampai dengan tahun 2011, tercatat berjumlah US$ 7,7 miliar.

Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Akan tetapi dengan tangan dinginnya, Sulaiman Al-Rajhi mampu mengelola saham utama di Bank Al-Rajhi. Melalui bank itu, Sulaiman Al-Rajhi berupaya melawan segala bentuk kemiskinan terhadap rakyat kecil.
Saham tersebut kemudian dibagikan kepada anak-anaknya, yakni Saleh, Sulaiman, Abdullah dan Mohammed untuk dibagikan lagi ke keturunan selanjutnya. Sulaiman Al-Rajhi tidak sukses dalam hitungan malam. Hampir 30 tahun lamanya dia berupaya untuk menghubungkan nilai-nilai Islam dari Arab Saudi dengan Kristen dari negara barat dalam prinsip ekonomi.

      Selain sukses di dunia perbankan, Sulaiman Al-Rajhi juga memiliki kebun kurma terluas di daerah Qasim dekat Riyadh, Arab Saudi. Kebun seluas 5.466 hektar yang ditumbuhi sekitar 200 ribu pohon kurma ini bahkan masuk Guinnes World Book Record.
Akan tetapi, pria berusia 96 tahun ini memilih mewakafkan ladang nan luas ini kepada Yayasan Al Khairiyyah. Menariknya setiap bulan Ramadan, buah-buah kurma dari ladang ini dibawa ke Masjidil Haram Makkah dan Masjidil Al Nabawi Madinah untuk menu buka puasa.
Kebun ini bukanlah satu-satunya kebun yang dimiliki oleh Al-Rajhi. Ada tiga perkebunan kurma lainnya yang juga ia wakafkan untuk bulan Ramadan.
Setiap hari Sulaiman Al-Rajhi harus bekerja keras dan tidak pernah lupa memulai serta menutup harinya dengan beribadah. Dia juga senantiasa berkegiatan sesuai jadwal sehari-hari yang sudah disusunnya sebagai pedoman aktivitas.
Dia juga pernah dianugerahi penghargaan King Faisal International Prize oleh Kerjaan atas segala kerja kerasnya. Akan tetapi, siapa nyana jutawan ini pernah jatuh miskin sebanyak dua kali dalam hidupnya. Akan tetapi, kondisi melarat yang pernah dialaminya itu justru kian mengubah pandangan Sulaiman Al-Rajhi.

Ia pun memantapkan diri untuk melepas semua harta untuk hidup bahagia, tenang dan damai. Baginya, seluruh kekayaan materi yang dia miliki semata-mata titipan Tuhan yang kapan saja bisa ditarik kembali.

     Oleh karena itu, tanpa beban atau berat hati Sulaiman Al-Rajhi melepas semua kekayaan yang dimiliki kepada anak-anaknya yang berjumlah 32 orang. Tanpa sepeser pun uang yang tersisa pada dirinya hanyalah pakaian sehari-hari.
Meski demikian, Sulaiman Al-Rajhi dapat menikmati hidupnya dengan tentram. Bahkan dia yakin dengan cara seperti inilah dirinya dapat mengikat tali persaudaraan dengan keluarga.

Mengapa yang membunuh Dajjal Nabi Isa, kenapa bukan Nabi Muhammad?





Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, Nabi Isa 'alaihis salam akan diturunkan di akhir zaman –di antaranya- untuk membunuh Dajjal.

Mengapa bukan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang membunuh Dajjal? Sebab beliau sendiri bersabda:


إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَىٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِى
“Jika Dajjal telah keluar dan saya masih hidup maka saya akan membela (menjaga) kalian, namun Dajjal keluar sesudahku” (HR. Ahmad; hasan)

Mengapa Nabi Isa yang kemudian ditugaskan membunuh Dajjal? 

Pertama
Nabi Isa tidaklah dibunuh dan disalib sebagaimana persangkaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Namun, Nabi Isa diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan orang yang disalib saat itu adalah laki-laki yang diserupakan dengan Nabi Isa.


وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ
“Dan karena ucapan mereka (orang-orang Yahudi): Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka” (QS. An Nisa’ : 157)


Diturunkannya Nabi Isa di akhir zaman akan menjadi bukti kebenaran firman Allah dan menjungkirbalikkan keyakinan orang-orang Nasrani.


Kedua

Ketika peristiwa kiamat terjadi, Romawi (Nasrani) adalah bangsa mayoritas. Allah hendak menunjukkan kedustaan dan kepalsuan apa yang mereka adakan atas nama Allah terhadap Isa bin Maryam yang mereka nyatakan sebagai penebus dosa dan anak Allah.
Selain itu, Nabi Isa juga akan mematahkan salib dan membunuh babi. Salib yang selama ini menjadi simbol kemusyrikan kaum Nasrani dan babi yang selama ini dianggap halal oleh mereka.


لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ
“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan ‘Isa. Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah. Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning. Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah. Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah” (HR. Abu Daud; shahih) 


Ketiga

Allah hendak menunjukkan kepada orang-orang yang mengada-adakan agama dan keyakinan trinitas bahwa hanya Islam-lah yang diridhai Allah. Sehingga Allah menurunkan Nabi yang mereka anggap Tuhan untuk memperkuat bahwa hanya Islam-lah agama yang benar, sebagaimana hadits di atas. 

Ini Dia Sejarah Pengakuan Kemerdekaan Indonesia oleh Palestina!




      Bulan Agustus bagi negera Indonesia adalah bulan yang sangat bersejerah. Dimana pada bulan tersebut Indonesia merdeka dari penjajah Jepang yang saat itu menguasai Indonesia dengan waktu yang cukup lama. Tentunya sebagai generasi penerus pada setiap tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia suka cita menyambut hari kemerdekaan tersebut dengan mengadakan sebuah acara yang diisi dengan kegiatan lomba-lomba yang menarik dan unik.

     Euforia kemerdekaan Indonesia ternyata bukan dirasakan oleh rakyat Indonesia sendiri. Ada satu negara yang memang sejak Indonesia memproklamir kemerdekaanya, negera tersebut mengakui akan kemerdekaan tersebut. Sampai hari ini pun negara tersebut selalu mengucapakannya walaupun tengah didera peperangan yang sangat hebat. Negara tersebut adalah Palestina.


Sejarah Pengakuan Kemerdekaan Indonesia

     Saat Pahlawan proklamator Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta membacakan kemerdekaan Indonesia banyak negara yang belum mengakui kemerdekaan tersebut. karena hal tersebut H. Agus Salim yang juga sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia berinisiatif untuk pergi ke Timur tengah dengan tujuan selain ingin menggalang dana juga ingin mendapat pengakuan atas kemerdekaan Indonesia.

    Setiba di sana, ternyata apa yang diharaplan tidak sesuai dengan keinginan. Harus menunggu cukup lama atas pengakuan tersebut dari negara-negara Timur Tengah. Namun, dari sekian banyak negara di Timur tengah hanya Palestina yang berani mengakui kemerdekaan tersebut.

    Saat itu Syekh Muhammad Amin Al- Husaini mufti Palestina menyampaikan selamat atas kemerdekaan yang diraih Indonesia lewat H. Agus Salim. Syekh Al-Husaini adalah sosok mufti yang Kharismatik dengan terang-terangan mengakui kemerdekaan ini walapun pada saat itu Palestina sedang bergejolak melawan zionis dan imperialis Inggris.

     Keberaniannya tersebut tersebar ke seluruh negeri sampai radio berbahasa arab yang ada di Berlin, jerman mendengar kabar ini dan memberitakannya selama berhari-hari. Palestina mengakui kemerdekaan Indonesia karena memang berlandaskan pada persaudaraan Islam dan tentu saja jika ini terjalin dengan baik ingin sekali memutus rantai penjajahan asing tersebut.

     Maka setelah Palestina mengakui kemerdekaan tersebut, Syekh Al-Husaini pun mendesak negara-negera Timur Tengah lain untuk mengakui kemerdekaan tersebut. dan usahanya pun berhasil, beliau berhasil meyakinkan negara lain seperti Mesir, Suriah, Irak, Arab Saudi, Lebanon, Afghanistan, dan juga Yaman untuk bisa mengakui kemerdekaan Indonesia.

     Bahkan dukungan Palestina tidak hanya bersifat moril saja. Ada saudagar kaya dan juga pemimpin Palestina saat itu yang bernama Muhammad Ali Taher memberikan seluruh tabungannya untuk mempertahanakan kemerdekaan Indonesia.

    Seluruh tabungannya tersebut di berikan kepada panitia kemerdekaan Indonesia yang memang diundang secara khusus oleh Muhammad Ali Taher untuk datang ke Palestina. Andai kata saat itu Palestina tak mengawali pengakuannya mungkin saja sampai hari ini dunia pun belum mengakui kemerdekaan Indonesia.

    Saudaraku di seluruh tanah air Indonesia, Palestina memang tidak butuh balasan dari apa yang telah dilakukanya saat itu. Tapi masih adakah rasa persaudaraan dalam diri kita masing-masing untuk membantu rakyat Palestina saat ini? minimal untaian doa selagi kita masih bisa. (Izzah Safira)

Manfaat Membaca Al Quran dengan Bersuara





         Perintah membaca Al Quran itu turun dari Allah langsung sehingga tidak perlu diragukan kebenarannya. Namun yang namanya manusia, rasa penasaran akan manfaat di balik perintah senantiasa diteliti. Itu semua tak lain sebagai sarana untuk semakin menambah keimanan kita terhadap Allah. Dalam hal membaca Al Quran, beberapa ilmuwan muslim telah menelitinya. Salah satunya adalah dr. Al Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat.
Menurut penelitian yang diadakan oleh dr. Qadhi, membaca Al Quran memunyai banyak manfaat baik bagi yang paham bahasa Arab atau pun tidak. Manfaat ini terlihat dari adanya perubahan secara psikologis. Mereka yang butuh penyembuhan secara psikologis, merasakan dampak ini khususnya yang sedang depresi dan sedih. Sebagai gantinya mereka merasakan kedamaian di dalam diri saat Al Quran dibacakan.
        Penelitian ini menggunakan sejumlah peralatan terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, tegang dan lenturnya otot, dan reaksi kulit terhadap aliran gelombang. Dari penelitian ini terlihat hasilnya bahwa 97% kedamaian dalam diri seseorang didapat setelah subjek membaca Quran sebagai terapi penyembuhan. Membaca Al Quran ini sangat dianjurkan untuk bersuara, paling tidak bisa didengarkan oleh diri sendiri. Itu karena melalui serangkaian penelitian, diketahui bahwa tubuh manusia itu terdiri dari sel-sel yang senantiasa bergerak.
"...Menurut penelitian yang diadakan oleh dr. Qadhi, membaca Al Quran memunyai banyak manfaat baik bagi yang paham bahasa Arab atau pun tidak. Manfaat ini terlihat dari adanya perubahan secara psikologis..."

        Sel-sel yang senantiasa bergerak ini pastilah mengalami kerusakan di tingkat tertentu. Untuk menggantikannya dengan sel-sel baru, maka rangsangan dengan terapi suara bisa menjadi solusi. Dr. Al Qadhi membuktikan bahwa terapi suara dengan membaca Al Quran sambil bersuara bisa mengembalikan keseimbangan sel-sel yang rusak untuk diganti dengan yang baru.
Itulah mengapa membaca Al Quran di pagi hari sebelum memulai beraktivitas sangat baik bagi kesehatan tubuh. Ibaratnya tubuh ini mendapat asupan energi bergizi dan semangat dari membaca Al Quran dengan bersuara. Sel-sel tubuh terbarui dengan maksimal untuk menjalankan tugasnya seharian itu.
        Waktu lain yang sangat afdhol untuk membaca Al Quran dengan bersuara adalah di malam hari. Saat tubuh terasa lelah dan butuh istirahat, maka bacaan Al Quran menjadi pelipur penat untuk memberi suntikan nutrisi bagi sel-sel yang diajak beraktivitas seharian tadi. Selain itu malam hari suasana sekitar juga terasa lebih tenang dan hening dibandingkan dengan hingar-bingarnya siang hari.
Perhatikan tartil bacaan. Rasakan dan resapi setiap huruf yang keluar dari mulut kita. Itu karena membaca Quran tidak sebatas bacaan tanpa makna dan manfaat. Meskipun tidak mengerti artinya tapi hayati dan nikmati setiap ayat yang keluar karena kita sedang membaca surat cintaNya. Insya Allah sel-sel rusak yang berpotensi menjadi penyakit akan luruh dengan bacaan Al Quran ini bahkan tanpa kita menyadarinya. Wallahu alam.

Saturday, 25 February 2017

Pendaftaran Calon Siswa Baru Nurul Ilmi


Kabar Gembira, Yayasan Perguruan Islam Nurul Ilmi membuka pendaftaran bagi calon Siswa/i baru T.A. 2017/2018 yang akan dibuka pada :

Tanggal : 1 Februari s.d. 25 Maret 2017
Tempat : Gedung utama Nurul Ilmi Padang Sidempuan
Pukul : 07.30 s.d. 16.00 

Monday, 26 December 2016

Haji Badjora M. Siregar, dari Tokoh Dokter, Politik, Hingga Pendidikan




Jihad tidak terbatas pada angkat senjata atau perang, tapi juga salah satu cabang jihad, yakni jihad mal (harta). Sumbangan harta demi pendidikan digolongkan juga jihad fisabilillah. Oleh karena itu, sebagian ulama membagi mustahak zakat pada mereka yang menuntut ilmu–pelajar berhak menerimanya.
Kontribusi semacam itu tampaknya sering diperbuat Pak dr Haji Badjora M Siregar, ketua Yayasan Perguruan Islam (YPI), SD-SMP-SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan. Dalam satu kesempatan, Pak Badjora mengatakan, mendirikan sekolah yang bermutu dan murah seperti Nurul Ilmi ini langkah langka, sedangkan mendirikan sekolah yang mahal dan berkualitas itu mudah.
Apa yang dikatakannya benar, untuk Sumatera Utara (Medan) misalnya kita mengetahui ada sekolah Swasta Sutomo, Harapan, Al Azhar, dan Syafiatul Amaliyah. Dan seperti kita ketahui biayanya cukup mahal bagi kalangan ekonomi lemah. Jadi, beruntunglah kita di Padangsidimpuan, memiliki Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan yang berkualitas dan terjangkau.
Seandainya, kata dr Badjora banyak tokoh eks Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang kini meliputi wilayah Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Padang Lawas Utara (Paluta), dan Padang Lawas (Palas). Mau mendirikan pendidikan seperti Nurul Ilmi Padangsidimpuan, tentu putra/putri Tabagsel akan menjadi aktor nasional, bahkan internasional sekaliber Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Tapi, masalahnya, jamak tokoh Tabagsel yang sukses dan kaya belum melakukannya? Terlepas dari kelebihan atau keterbatasan yang disumbangkan Badjora dalam pendidikan, rasanya kita patut mengapresiasi amalnya. Paling tidak kita perlu berterima kasih dengan apa yang dilakukan dr Badjora dalam pendidikan, terutama di Kota Padangsidimpuan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih itulah, tulisan ini diungkap ketokohan Pak dr H Badjora M Siregar, khususnya dalam bidang pendidikan.
Tokoh di Sekitar Kita
Banyak orang beranggapan bahwa salah satu penyebab moralitas masyarakat merosot lantaran kita kekurangan teladan. Saya kira masalahnya, kita bukan kehabisan stok tokoh anutan, melainkan cara pandang kemanusiaan kitalah yang keliru, sampai kemudian tak mampu menangkap ibrah dari orang hebat yang ada di sekitar kita.
Masih ingat komentar Ruhut Sitompul ketika konflik KPK-Polri baru-baru ini. Politikus Demokrat itu mengatakan di media, pimpinan KPK haruslah beda tipis (beti) dengan malaikat. Padahal, Ruhut lupa kita manusia yang jelas-jelas berbeda dengan malaikat. Betul malaikat sangat bersih dari segala maksiat, tetapi malaikat tak ditunjuk Tuhan sebagai khalifah. Justru manusia dengan segala kelebihan dan keterbatasannyayang diangkat khalifah di bumi–dan karena itu manusia bertanggung jawab terhadap konsekuensi baik maupun buruk perbuatannya. Untuk itulah, kita jangan hanya menyorot tokoh yang di Jakarta, misalnya, melainkan kita penting menilik bahkan meneliti tokoh di sekitar kita. Bisa jadi ia adalah keluarga kita, tetangga kita, lingkungan kita, atau mungkin pimpinan di tempat kita bekerja.
Di sini, saya ingin mencontohkan Pak dr H Badjora M Siregar. Siapa yang tidak mengenal beliau di wilayah Tabagsel –paling tidak mendengar namanya disebut, dari desa yang paling kolot hingga kabupaten dan kota di Tabagsel.
Mengapa dr Badjora begitu masyhur? Mungkin, karena profesinya sebagai dokter spesialis bedah (DSB) yang pertama di wilayah Tabagsel. Konon, pada saat ia pulang kampung (Pulkam) dari Jakarta, selulus dari Universitas Indonesia (UI). Di Sumatera Utara (Sumut) dokter spesialis masih hitungan jari, di Medan saja baru satu orang? Kalau tidak salah juga, Dokter Badjora M Siregar seangkatan di UI Jakarta dengan almarhumAbdul Mun'im Idries pakar forensik yang menjadi saksi ahli pada persidangan kasus Antasari Azhar, mantan pimpinan KPK yang tersangkut pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

" Mungkin, kita berandai, sekiranya Badjora tidak Pulkam ke Tabagsel, kepopuleran dan kepakarannya bisa sekaliber Abdul Mun’im yang menasional itu? Rupanya, Badjora sebagai muhajirin di Jakarta, masih mau Pulkam ke Padangsidimpuan, semacam fathul Padangsidimpuan yang ditinggalkan sementara dulu. "

Akan tetapi, saya tidak bermaksud mengisahkan Badjora sebagai dokter. Di sini, saya justru ingin mengungkapkan sebagian jihad mal (kontribusi harta) yang dilakukannya demi pendidikan–terutama mencerdaskan masyarakat Tabagsel khususnya, dan manusia Indonesia umumnya.
Jihad Mal Pendidikan Menurut Mohammed AbedAl-Jabri, ulama dari Maroko bahwa dinamika gerakan Islam itu mempunyai tiga modal, yakni modal akidah (tauhid), modal ghanimah (ekonomi), dan modal kabilah (suku). Mungkin, sebagian besar di antara kita hanya memiliki salah satunya, sebagian orang memiliki modal akidah, tapi tidak mempunyai ghanimah. Atau sebaliknya, mempunyai modal aqidah dan ghanimah, tetapi tidak mempunyai modal kabilah. Kalau boleh dibilang Badjora memiliki ketiga modal itu.
Sebagaimana dikatakan Pak H Nurfin Sihotang, Ph.D kepada saya. Lihatlah Pak dr Badjora, shalat dan doanya lebih panjang daripada kita. Saya pun mengamini itu secara pribadi. Itulah contoh modal akidah kalau ibadah seseorang kepada Allah SWT selalu ikhlas. Tidak hanya fardhu ain–
sebagaimana dikatakan Mahathir Mohammad pada acara seminar HUT Waspada Medan ke-68 yang bertema “Menyonsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” di Grand Ball Room Hotel JW Marriot Medan, Sabtu (10/1/2015). Mantan PM Malaysia itu menyampaikan umat Islam lemah karena hanya fokus pada fardhu ain semata dan belum menganggap fardhu kifayah seperti kekuatan ekonomi sebagai ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Tuhan. Jika di Malaysia, Mahathir sudah membuat gerakan ke arah kekuatan ekonomi tentu lewat pendidikan. Di Indonesia, sudut Barat Sumatera, yakni Padangsidimpuan, dr Badjora melakukan hal yang persis. Berupa pendirian Yayasan Perguruan Islam, pendidikan SD, SMP, dan SMA Nurul ‘Ilmi Padangsidimpuan.
Pola pendidikan Nurul Ilmi Padangsidimpuan adalah perpaduan ilmu umum dan agama. Muatan ilmu IPA dan PAI; sekolah plus pesantren. Penyatuan itu dalam istilah dosen saya Prof KH Yudian Wahyudi Ph.D, tauhidul ulum–menyatukan epistemologi keilmuan. Pasalnya, setelah kita bangsa Indonesia, babak belur dihajar penjajah (kolonial) yang buntutnya melahirkan dikotomi (umum vs agama) dalam pendidikan. Kini, kita Indonesia mulai insyaf dengan bangkitnya Sekolah Islam Terpadu, SDIT, SMPIT, SMAIT hingga IAIN-T atau UIN-T, T-nya terpadu.
Sejarah membuktikan golongan minoritas dapat mengalahi mayoritas–sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 249. Persis kisah peperangan Thalut/Daud dan Jalut atau David versus Goliath, yang dimenangi Daud. Kekuatan ilmu pengetahuan dikuasai minoritas. Daud bersenjata ketapel yang ringan, sedangkan Jalut (Goliath) beralat tombak/pedang yang berat. Daud si pelontar (artileri) membidik bagian kepala Jalut si infanteri sampai tewas. Sebagaimana juga dalam Surah Al-Fil, laskar gajah Abarahah luluh lantak diserang pasukan udara Ababil.
Begitulah, penjajah menaklukkan negara mayoritas Muslim. Strategi perang kolonial bersenjata ilmu Fisika, IPA, matematika, dan ekonomi. Lalu, kita lawan dengan meta-Fisika dan alat tradisional. Jet tempur kolonial kita tangkis dengan bambu runcing. Makanya, kita patah berkeping-keping, seperti daun yang dimakan ulat-ulat (kaasfin ma’kul). Paling tidak korbannya, lebih banyak pada rakyat Indonesia dibanding penjajah Belanda. Untuk pertaubatan itulah, masa depan Nurul Ilmi Padangsidimpuan layak dipertimbangkan, karena alumni Nurul Ilmi mulai menembus universitas nasional, seperti UI Jakarta dan UGM Yogyakarta. Oleh karena itulah, dr Badjora rela mensubsidi alumni Nurul ‘Ilmi hingga ke universitas.
Misalnya, saya pernah menyaksikan di lantai dasar aula Nurul Ilmi Padangsidimpuan–seorang orang tua yang terisak tangis di hadapan Badjora. Saya yang lewat menguping masalahnya, ternyata si orang tua tidak mampu menanggung biaya anaknya alumni Nurul Ilmi yang lulus di PTN pulau Jawa. Pak Badjora bersedia membantunya. Begitu juga saya dengar kisah lain, alumni Nurul Ilmi yang lulus kedokteran di UI Jakarta, tapi orang tuanya tergolong ekonomi lemah. Pak Badjora rela membantu biaya pendidikan si anak calon dokter itu hingga kini. Saya kira, itu hanya dua contoh kecil dari sekian banyak orang yang dibantu Badjora M Siregar.
Tanpa bermaksud memuji atau memujanya secara berlebihan–dengan banyaknya sumbangan harta, zakat, shadaqah, dan infak yang diberikannya demi kemaslahatan umat. Berbagi kepada masyarakat yang kurang mampu dan guru madrasah. Termasuk secara langsung berbagi uang kepada siswa Nurul Ilmi yang kaya maupun yang miskin sudah menjadi kebiasaan rutin Pak Dokter Badjora. Saat itu, sebagaimana kegembiraan si penerima, begitu jugalah tampaknya kebahagiaan terpancar di wajah Pak Badjora. Padahal, yang namanya dokter, umumnya bermuka serius, kecuali dokter anak.
Mungkin karena mereka sering berhadapan dengan orang yang sekarat atau sakaratul maut (menjelang mati). Dengan memberi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, Allah SWT menjanjikan nikmat tambahan atas rasa syukur itu. Barangkali itu jugalah resep Badjora sehingga tampak sehat–padahal ia lahir 25 November 1939. Kisah sekelumit dr Haji Badjora M Siregar ini tidaklah bermaksud sanjungan berlebihan. Saya tahu orang yang besar pasti tidak suka dipuji. Sebagaimana juga saya dengar Badjora mengatakan kepada seseorang yang menangis di hadapannya. “Saya tidak suka bila orang lain menangis kepada saya karena mengharap bantuan. Mengadulah kepada Tuhan, mintalah kepada-Nya, dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh.”

Sumber : Kompasiana